Appointment

Combining Laser Treatment and Platelet-Rich Plasma for Acne Scars: What Does Science Say?

Laser and PRP
  • Anjani
  • 10 Jul 2026

Combining Laser Treatment and Platelet-Rich Plasma for Acne Scars: What Does Science Say?

dr. Anjani Larasati - Rassure Murni Teguh Pejaten 

 

Bekas jerawat (acne scars) terutama tipe atrofik (rolling, boxcar, ice-pick) terbentuk karena kerusakan kolagen dermis setelah inflamasi jerawat. Tujuan utama terapi adalah “membangun ulang” kolagen dan merapikan arsitektur dermis sehingga tekstur kulit tampak lebih rata. Dua pendekatan yang sering dipadukan untuk tujuan ini adalah laser fraksional (terutama fractional ablative CO2 atau Er:YAG) dan platelet-rich plasma (PRP). Pertanyaannya: apakah kombinasi ini benar-benar lebih baik daripada laser saja, dan seberapa kuat buktinya?

Mengapa laser dan PRP sering digabung?
 Laser fraksional bekerja dengan membuat mikro-kolom cedera terkontrol (microthermal zones) di kulit. Cedera ini memicu proses penyembuhan luka yang berujung pada pembentukan kolagen baru dan remodeling jaringan parut. Pada bekas jerawat, fractional ablative laser (CO2/Er:YAG) termasuk modalitas yang paling sering dipakai karena efek remodeling-nya kuat, tetapi biasanya disertai downtime (kemerahan, bengkak, krusta) dan risiko efek samping seperti post-inflammatory hyperpigmentation (PIH), terutama pada kulit berpigmen. Tinjauan sistematis terbaru mengenai fractional CO2 laser pada acne scars menunjukkan perbaikan klinis yang bermakna pada banyak pasien, dengan efek samping yang umumnya sementara, tetapi tetap ada kebutuhan optimalisasi hasil dan keamanan pada berbagai tipe kulit.1

PRP adalah konsentrat trombosit autologus yang membawa berbagai growth factors (misalnya PDGF, TGF-β, VEGF) yang terlibat dalam penyembuhan luka, angiogenesis, dan stimulasi fibroblas. Secara teori, PRP dapat mempercepat pemulihan pasca-laser (downtime lebih pendek) dan memperkuat remodeling kolagen, sehingga hasil scar revision lebih baik. Review dermatologi juga menekankan bahwa PRP paling rasional digunakan sebagai adjuvan pada prosedur yang “memicu luka terkontrol” seperti fractional ablative laser, karena ada target biologis yang jelas (wound healing cascade).2

Apa kata studi klinis?

  1. Uji klinis terkontrol dan studi split-face
     Beberapa studi klinis (termasuk split-face) melaporkan bahwa penambahan PRP pada fractional laser memberi perbaikan skor bekas jerawat yang lebih baik dibanding laser saja, sekaligus mempercepat resolusi eritema/edema serta mengurangi downtime. Contoh klasik adalah studi terkontrol yang mengevaluasi PRP + fractional laser untuk acne scarring dan menunjukkan manfaat klinis dibanding laser tanpa PRP.3 Studi lain pada kombinasi fractional CO2 dengan PRP juga melaporkan hasil lebih baik dan downtime lebih singkat.4

  2. Review sistematis dan meta-analisis
     Bukti level lebih tinggi mendukung arah yang sama. Sebuah systematic review dan meta-analysis (pada atrophic acne scars) melaporkan kombinasi ablative fractional CO2 laser dengan PRP cenderung lebih efektif dan tetap aman pada derajat scar sedang–berat.5 Selain itu, review khusus mengenai kombinasi PRP dengan fractional ablative laser pada post-acne scars menyimpulkan bahwa PRP intradermal sebagai adjuvan meningkatkan efikasi klinis dan menurunkan downtime serta frekuensi/durasi efek samping terkait laser; sementara PRP topikal umumnya kurang efektif dibanding pemberian intradermal.6 Review lain yang membandingkan fractional CO2 sebagai monoterapi vs kombinasi dengan PRP juga melaporkan kecenderungan hasil klinis lebih baik pada kelompok kombinasi, dengan catatan heterogenitas protokol antar studi masih menjadi keterbatasan.7

Jadi, secara keseluruhan, “arah bukti” mendukung bahwa laser + PRP sering kali lebih baik daripada laser saja, terutama pada parameter: perbaikan skor scar, waktu pemulihan, dan tolerabilitas. Namun, besarnya manfaat bisa bervariasi karena perbedaan jenis laser, energi, jumlah sesi, cara pemberian PRP, dan tipe kulit.

PRP intradermal vs PRP topikal: mana yang lebih masuk akal?
 Berdasarkan rangkuman studi komparatif dalam review, PRP intradermal cenderung memberikan efek adjuvan yang lebih konsisten dibanding PRP topikal.6 Secara biologis, ini masuk akal: pemberian intradermal menempatkan PRP langsung pada dermis target remodeling, sedangkan PRP topikal sangat bergantung pada penetrasi melalui stratum corneum yang mungkin terbatas (meski prosedur ablative dapat meningkatkan “jalan masuk”). Artinya, bila klinik punya kompetensi injeksi yang baik, PRP intradermal biasanya menjadi pilihan adjuvan yang lebih kuat—tentu dengan pertimbangan nyeri, memar, dan preferensi pasien.

Bagaimana biasanya protokol kombinasi diterapkan?
 Praktik bervariasi, tetapi pola yang sering dipakai dalam studi dan praktik klinik meliputi:

  • laser fraksional ablative (CO2 atau Er:YAG) dengan parameter disesuaikan kedalaman/tipe scar dan fototipe kulit

  • PRP diberikan sebagai:
     a) intradermal (misalnya teknik nappage/microinjections pada area scar), atau
     b) topikal segera setelah laser (sebagai “mask/serum” pasca-prosedur), atau
     c) kombinasi keduanya

  • jumlah sesi umumnya beberapa kali (misalnya 3–6 sesi), dengan interval sekitar 4–6 minggu (tergantung respons kulit dan downtime)

Catatan penting: hasil terbaik biasanya terjadi bila tata laksana disesuaikan dengan tipe scar. Rolling scars sering butuh tambahan subcision; ice-pick scars sering lebih responsif terhadap TCA CROSS atau punch techniques; boxcar scars bisa membutuhkan kombinasi yang lebih agresif. Laser + PRP adalah “bagian dari paket,” bukan selalu satu-satunya jawaban.

Keamanan, efek samping, dan hal yang perlu diwaspadai
 Efek samping laser fraksional yang umum adalah eritema, edema, rasa panas/nyeri, krusta, dan risiko PIH.1 Penambahan PRP pada beberapa studi dikaitkan dengan pemulihan lebih cepat dan berkurangnya downtime, tetapi PRP sendiri tetap bisa menimbulkan memar, nyeri suntikan, atau bengkak lokal bila diberikan intradermal.6,7

Pada pasien dengan kulit berpigmen (Fitzpatrick III–VI), strategi pencegahan PIH tetap penting: pemilihan parameter yang konservatif, priming dengan topikal tertentu bila perlu, fotoproteksi ketat, dan manajemen pasca-tindakan yang disiplin.

Kesimpulan praktis

  • Bukti ilmiah saat ini mendukung bahwa kombinasi laser fraksional (terutama ablative CO2/Er:YAG) dengan PRP sering memberikan hasil scar revision yang lebih baik dibanding laser saja, dengan kecenderungan downtime lebih singkat.3–7

  • PRP intradermal umumnya lebih efektif daripada PRP topikal sebagai adjuvan pada laser untuk post-acne scars, walau harus mempertimbangkan kenyamanan pasien dan risiko memar.6

  • Hasil sangat dipengaruhi oleh tipe scar, pemilihan pasien, parameter laser, teknik PRP, serta perawatan pasca-prosedur. Kombinasi ini paling optimal bila menjadi bagian dari rencana multimodal (misalnya ditambah subcision untuk rolling scars).

Referensi

  1. Ptaszek B, et al. The Use of a Fractional Laser in Acne Scar Treatment—Systematic Review. 2025. (PMC).

  2. Hesseler MJ, Shyam N. Platelet-rich plasma and its utility in the treatment of acne scars: A review. J Am Acad Dermatol. 2019.

  3. Faghihi G, et al. Efficacy of autologous platelet-rich plasma combined with fractional laser therapy in the treatment of acne scarring. 2016.

  4. Manuskiatti W, et al. Fractional CO2 laser versus combined platelet-rich plasma and fractional CO2 laser for acne scars. J Cosmet Dermatol. 2019.

  5. Aljefri YE, et al. Ablative fractional carbon dioxide laser combined with autologous platelet-rich plasma in the treatment of atrophic acne scars: a systematic review and meta-analysis. Dermatol Ther. 2022;35:e15888.

  6. Arora S, et al. Combining platelet rich plasma with ablative laser for post acne scars: A review. 2024. (IJDVL / PubMed).

  7. Tawfik AA, et al. Fractional CO2 laser as monotherapy or combined with PRP for atrophic post-acne scarring: review of efficacy and safety. Dermatol Surg. 2024.